Marketplus.id – Pesan-pesan yang bermuatan radikalisme mudah diperoleh dari konten di situs online ataupun di media sosial. Anak-anak muda menjadi radikal atau bahkan bergabung dengan kelompok militan melalui ajakan di media sosial.

Sejak kemunculannya, ISIS menggunakan media sosial untuk menarik perhatian anak-anak muda. ISIS kerap mengunggah video-video pembunuhan para sandera mereka.

Pengunaan media sosial juga dilakukan oleh para pendukungnya. Di Indonesia, jaringan Mujahidin Indonesia Timur menyampaikan dukungan terhadap pimpinan ISIS Abu Bakar Al Bahgdadi melalui media sosial YouTube.

Aksinya diikuti oleh sejumlah orang Indonesia yang mengaku berada di wilayah kekuasaan ISIS, Irak serta Suriah, dan mengajak masyarakat untuk ikut ‘berjihad’ bersama ISIS di negara tersebut.

Stephanie Olivia, Tenaga Ahli DPR RI, mengatakan kelompok terorisme lebih menggunakan media sosial sebagai alat propaganda. “Kekuatan propaganda jaringan terorisme melalui media sosial melalui Twitter, Facebook dan YouTube jauh lebih besar,” jelas Stephanie, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (12/10/2021).

Ia menilai ancaman kelompok terosisme terhadap keamanan tidak begitu serius, tetapi pengaruhnya melalui media sosial ini menjangkau sejumlah daerah antara lain Solo, Medan, Makassar, dan Bima.

Hal itu dipengaruhi oleh pengguna media sosial di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dengan pengguna aktif Facebook lebih dari 70 juta orang.

Rudiantara mengatakan pemerintah akan mengeluarkan regulasi untuk mencegah penyebaran konten-konten yang melanggar hukum, termasuk yang berisi radikalisme dan penyebaran kebencian dalam waktu dekat.

“Regulasi baru itu, akan memberikan wewenang kepada tokoh-tokoh masyarakat, untuk mengkaji pengaduan masyarakat yang berkaitan dengan konten online,” paparnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (12/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Ernawiyadi (Kepala MTsN 3 Probolinggo), Devi R. Ayu (Founder & CEO Cindaga Comms Consultant Cindaga.com Malang), Ariefika Listya (Dosen DKV Universitas Indraprasta PGRI), dan Nurrohman Adi Assajjad (Inspiring Content Creator) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.