Marketplus.id – Secara tidak sadar, budaya digital yang telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari memungkinkan penggunanya menjadi kecanduan alih-alih menjadi produktif. Fenomena ini perlu disikapi dengan cerdas oleh para talenta digital.

Dr. Imroatul Azizah, Dosen UIN Sunan Ampel menyebutkan, potensi penggunaan internet di Indonesia cukup besar yakni pada peringkat empat dunia. Potensi tersebut jika dikonversikan menjadi hal positif akan memberikan hasil yang luar biasa. Perubahan perilaku masyarakat yang banyak menggunakan teknologi untuk memenuhi kebutuhan dan aktivitas perlu dibangun kesadaran agar talenta digital tidak hanya menjadi pengguna yang pasif, melainkan juga pengguna aktif.

“Yang diperlukan adalah mengubah mindset menggunakan platform digital dengan tidak hanya menjadi penikmat atau distributor konten saja, tetapi berpartisipasi menjadi kreator. Namun, dengan kesadaran untuk menggempur dunia digital dengan konten positif,” ujar Imroatul, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Rabu (13/10/2021).

Lanjutnya, selain mengubah pola pikir, talenta digital juga perlu memahami sistem algoritma internet. Algoritma internet menyajikan konten serupa sesuai aktivitas digital. Sistem ini akan menimbulkan perilaku FOMO atau Fear of Missing Out, pengguna merasa takut ketinggalan hal-hal yang disukai di internet. Kualitas ini perlu diubah agar tidak timbul kecanduan terhadap internet dan teknologi.

“Agar tidak terjebak pada konten yang kurang positif, kita harus membuat media sosial kita berkualitas dengan memblokir akun yang membuat kita tidak nyaman dan cemas. Serta, unfollow konten yang memberikan konten negatif. Ganti pola tersebut dengan mengikuti akun dan konten yang memberi dampak positif, membuat nyaman, aman, dan menyenangkan,” imbuhnya.

Ia mengatakan, talenta digital dapat membangun perspektif baru dalam menggunakan dan memanfaatkan internet. Perspektif baru itu adalah memanfaatkan “kecanduan” menjadi hal produktif. Sebagian besar pengguna teknologi dan internet mungkin mengalami nomophonia, masalah kejiwaan yang ditandai dengan terlalu seringnya seseorang memeriksa gawai. Meski demikian, tidak semua mengalami hal tersebut karena kebutuhan internet setiap orang berbeda-beda.

“Internet bisa menjadi ladang rezeki, ketika mampu mengubah kebiasaan konsumtif menjadi hal yang produktif. Jika sebelumnya hanya menjadi penikmat konten, kita bisa mengubah kebiasaan tersebut dengan mulai mengamati konten, kemudian memproduksi konten. Jika senang bermain di media sosial, bisa mulai membangun self-branding, sehingga bisa menjadi influencer atau endorser,” jelasnya.

Sementara, untuk berpartisipasi mengisi ruang digital dengan konten positif, talenta digital bisa memulainya dari kegiatan sehari-hari. Misalnya, berbagi cara penyelesaian soal materi pelajaran tertentu, trik fotografi, tutorial memasak atau membuat kerajinan dan sebagainya. Kreasikan hal tersebut dengan menerapkan konsep ATM, amati tiru modifikasi.

“Menjadi produktif pun tidak perlu mahal, karena membuat konten dapat dilakukan hanya dengan memanfaatkan tools yang tersedia secara gratis. Misalnya Canva dan Snapseed untuk membuat konten foto dan grafis, VlogIt dan Kine Master untuk konten berupa video,” lanjutnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Rabu (13/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Drg. Silvia (Founder @Lasthtiqueid), Ricco Antonius (Founder Patris Official Store), Khoirul Adib (CEO YI Tech Indo & Owner KA Studio), dan Muhammad Isnaini sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.