13 Juli 2024

Marketplus.id – Istilah digital native dan digital immigrant mulai dikenal sejak 2001. Dua istilah tersebut berlaku bagi masyarakat pengguna digital. Digital native merujuk pada generasi yang sejak lahir sudah melek teknologi informasi. Mereka tak perlu panduan lagi untuk mengoperasikan perangkat digital.

Sedangkan digital immigrant adalah generasi yang tumbuh dewasa tanpa benar-benar menggeluti perangkat canggih yang terus berkembang dewasa ini. Generasi digital immigrant sangat memerlukan panduan dan belajar mengenai tata cara mengoperasikan perlengkapan digital.

Dr. H. Sukarji, Ketua STAI Diponegoro mengatakan orang tua yang masuk dalam digital immigrant sedang menerima tantangan besar menghadapi generasi digital native. Ada kesenjangan yang melingkupi hubungan antara anak dan orang tua jika masing-masing tidak bisa menyadari dan mengikuti perkembangan zaman.

“Orangtua punya peranan yang sangat dominan untuk memastikan keamanan anak dalam aktivitas mereka di ruang digital,” ungkap Sukarji, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (19/10/2021).

Menurutnya, peran orang tua terhadap keamanan beraktivitas dalam dunia digital anak bisa dilakukan degan berbagai cara. Misalnya dengan cara berkomunikasi aktif dengan anak tentang bahaya cyberbullying, persekusi online, hoaks, ujaran kebencian, konten radikal, pornografi, kekerasan daring, penipuan daring, pencurian data, serangan siber.

“Pastikan anak-anak tidak menyebarkan informasi pribadi dan rahasia secara bebas ke publik,” tandasnya.

Tips yang lain untuk mengurangi resiko anak terpapar radiasi akibat terlalu lama berada dalam ruang digital juga disampaikan olehnya. Misalnya dengan mengajak anak-anak beraktivitas dalam zona bebas gadget serta membuat kesepakatan bersama anak terkait aktivitas digital.

Selanjutnya yang tak kalah penting untuk memastikan anak beraktivitas secara aman di dunia digital adalah dengan cara orang tua ikut masuk ke dunia online anak. Orang tua bisa berteman di media sosial sehingga tahu konten apa saja yang diunggah anaknya sehingga jika ada posting-an yang tidak layak atau berpotensi menyebarkan hoaks orangtua bisa mengontrol secara langsung.

Ia mengatakan, orangtua agar menjadi teladan bagi anak. Karena bagaimanapun juga orang tua merupakan role model bagi anak-anaknya.

“Orang tua melarang anak main ponsel terus, sementara mereka sendiri ke mana-mana tak bisa lepas dari gadget. Bahkan tak jarang ke kamar mandi atau toilet juga membawa ponsel,” ujarnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (19/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Billy Kwanada (Wakil Ketua Bidang Pengembangan Bisnis GEKRAFS Jawa Timur), Arya Shani Pradhana (CEO & Founder Tejape Workspace), Herman Pasha (Senior Training Consultant), dan Clarissa Darwin sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. BerlAndaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *