Marketplus.id – Penipuan akan selalu ada, bahkan usianya sama seperti sejak manusia ada. Modusnya beragam dengan satu tujuan, mengambil yang bukan miliknya.

Menurut Rulli Suprayugo, Radio Broadcaster di RRI, modus dari pelaku penipuan selalu berganti, memanfaatkan teknologi yang ada, salah satunya menggunakan ponsel dengan cara menelepon calon korban.

“Sebetulnya dengan zaman sekarang, cara penipuan lebih mudah, tanpa harus keluar rumah. Misalnya saja melalui telepon,misalnya dengan daftar nomor, dihubungi satu per satu, sehari 50 nomor, berhasil 5 orang lumayan,” ujar Rulli, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (26/10/2021).

Lanjutnya, penipu ulung, pasti memiliki kemampuan sosial engineering. Dimana sejak awal percakapan dia sudah bisa menangkap secara psikologis apakah calon korban akan masuk perangkap atau tidak.

“Nah, dia tahu, gaya setiap orang itu akan lebih gampang dengan cara bicara seperti apa,” tegasnya.

Ia menambahkan, tidak hanya melalui sambungan telepon, cara lain yang bisa digunakan adalah melalui Short Messages Services (SMS). Bahkan ada software yang diperjualbelikan secara bebas untuk mengirim pesan singkat ke banyak nomor sekaligus.

“Ada yang jual software, tools untuk kirim SMS ke banyak nomor, harganya murah. Misal kirim 1.000 pesan, dapat 10 kan lumayan,” ujarnya lagi.

Ia mengatakan, tidak heran jika masih ada saja masyarakat yang tertipu. Karena korban-korban biasanya memang orang yang mudah dikelabui dan silau dengan hadiah, apalagi dengan nominal yang menggiurkan.

“Kalau orang pintar dikasih hadiah, dia akan mikir. Bisa juga modus-modus yang memanfaatkan kedekatan seperti keluarga, anak,” jelasnya.

Ia menerangkan, dari semua aksi penipuan, sebagian besar melibatkan perbankan. Baik itu untuk menggiring mangsanya untuk melakukan transfer langsung ke ATM atau menggunakan mobile banking.

“Kalau dilihat-lihat, bank-nya longgar dalam artian sulit dalam prosesnya, akan menjadi target (penipuan). Misalnya seperti Bank BCA dan Bank Mandiri kan susah tuh,” ujarnya.

Guna menghindari lebih banyak korban, menceritakan kembali modus-modus yang pernah terjadi diharapkan membuat masyarakat lebih waspada.

“Pemberitaan di media untuk menceritakan modus apa yang sering dilakukan, bisa membuat masyarakat sadar,” tuturnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (26/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Farizal Rohman Kurniawan (Guru PPKn SMAN 1 Dringgu Kabupaten Probolinggo), Nur Lina Safitri (Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LPPM ITSNU Pasuruan), Sari S. Riana (CEO at PT NAP Committee of Ind Chamber of Commerce (Kadin) Committe of Ind Hotel Association of DKI Jakarta (PHRI DKI)), dan Sukma Ningrum (Video Content Creator) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. BerlAndaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.