Marketplus – Perkembangan teknologi dan informasi membawa berbagai dampak pada kehidupan manusia. Tidak hanya dampak baik tapi juga dampak buruk menyertai perkembangan tersebut. Salah satu hal buruk yang didapat dari majunya teknologi adalah pornografi.

“Mudahnya akses internet membuat segala informasi bisa didapat. Hal tersebut juga termasuk akses pada situs pornografi,” ungkap Moch. Sofi Asrifin, Sekjen Relawan TIK Sidoarjo, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (26/10/2021) siang.

Menurut video pembelajaran Bahaya Pornografi di laman Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) 8 dari 10 anak usia 9-12 tahun di Jabodetabek sudah pernah menonton pornografi.  Sama seperti penggunaan narkoba, pornografi bisa menimbulkan kecanduan pada otak. Otak akan merespon dengen mengeluarkan hormon dopamin saat menonton konten dewasa.

“Hormon ini membuat otak merasa lebih tenang dan senang. Banyaknya hormon dopamin pada otak mendorong seseorang untuk terus mengakses pornografi,” paparnya.

Jika sudah kecanduan, anak atau remaja biasanya menunjukkan perubahan perilaku. Berikut ciri-ciri anak yang kecanduan pornografi, seperti:

  • Gugup jika diajak berkomunikasi dan menghindari kontak mata
  • Malas dalam belajar dan bergaul
  • Prestasi menurun dan tidak bergairah untuk beraktivitas
  • Selalu memegang gadget dan marah jika dibatasi.
  • Menarik diri dan senang menyendiri.

“Tantangan di ruang digital semakin besar, konten-konten negatif terus bermunculan dan kejahatan di ruang digital terus meningkat. Menjadi kewajiban kita bersama untuk meningkatkan kecakapan digital masyarakat melalui literasi digital,” ujar Presiden Joko Widodo saat membuka program literasi digital nasional.

Presiden pun mencontohkan konten-konten negatif yang marak muncul di ruang digital, seperti hoaks, penipuan daring, perjudian daring, eksploitasi seksual pada anak, perundungan siber, ujaran kebencian, hingga radikalisme berbasis digital. Hal-hal itu perlu diwaspadai karena mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

“Dengan literasi digital kita minimalkan konten negatif dan membanjiri ruang digital dengan konten positif,” tutur Jokowi.

Literasi digital merupakan pekerjaan besar, sehingga pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah perlu mendapatkan dukungan seluruh komponen bangsa agar semakin banyak masyarakat melek digital.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (26/10/2021) siang, juga menghadirkan pembicara, Indah Pratiwi Arumsari (Tenaga Ahli DPR RI), Eka Rini Widya Astuti (Ketua Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual ITSNU Pasuruan), Moh. Fiqih Ainuzzaki (Direktur CV. Mitra Integrasi Solusindo), dan Muhammad Umar (CEO CV. Sekoncoan Group) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. BerlAndaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.