Marketplus.id – Di era yang serba digital seperti sekarang, rasanya memang sulit untuk menghindarkan gadget dari anak. Anak-anak pada dasarnya sulit diam dan mudah terdistraksi, dan terkadang orang tua yang sibuk memberikan gadget untuk mereka bermain. Karena gadget dianggap mampu menyita perhatian mereka, padahal ini berbahaya apalagi di usia yang sangat muda.

Menurut Rynold Aberson Pardede, Project Director at Blen Cuit, pengenalan gadget terlalu dini membuat anak-anak melambat dalam perkembangan kemampuan kognitif yang sedang cepat berkembang di usia mereka, seperti kemampuan mengingat, memecahkan masalah, berpikir, atau mengambil keputusan.

“Anak-anak juga akan mudah merajuk, menangis, bahkan tantrum saat tidak diberi izin menggunakan gadget. Karena ini (gadget) sudah menjadi obsesi buat mereka,” ujar Rynold, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (10/11/2021).

Selain itu, interaksi sosial tatap muka seperti berkomunikasi dengan orang tua, orang lain, menjadi tidak lancar, karena tidak terbiasa dan kebanyakan mengisolasi diri dengan keasikan bermain gadget. Lanjutnya, gadget, juga memancarkan spektrum cahaya yang terus menerus dan sebagian panjang gelombang cahaya tidak baik untuk mata jika digunakan terlalu lama.

“Mudah sekali sekarang menemukan anak anak yang menggunakan kacamata di usia dini, karena saat melihat gadget tanpa sadar kita lebih jarang mengedit sehingga mata mudah kering, otot mata hanya fokus pada jarak dekat sehingga saat melihat jauh jadi sulit fokus,” terangnya.

Presiden Joko Widodo saat membuka program literasi digital nasional, menjelaskan, tantangan di ruang digital semakin besar, konten-konten negatif terus bermunculan dan kejahatan di ruang digital terus meningkat. “Menjadi kewajiban kita bersama untuk meningkatkan kecakapan digital masyarakat melalui literasi digital,” ujar Joko Widodo.

Presiden pun mencontohkan konten-konten negatif yang marak muncul di ruang digital, seperti hoaks, penipuan daring, perjudian daring, eksploitasi seksual pada anak, perundungan siber, ujaran kebencian, hingga radikalisme berbasis digital.

Hal-hal itu perlu diwaspadai karena mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. “Dengan literasi digital kita minimalkan konten negatif dan membanjiri ruang digital dengan konten positif,” ujarnya.

Literasi digital merupakan pekerjaan besar, sehingga pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah perlu mendapatkan dukungan seluruh komponen bangsa agar semakin banyak masyarakat melek digital.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (10/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Ervita Delima Sari (Sosial Media Specialist PT Pos Indonesia), Eflina N.F. Mona (Professional Master of Ceremony & Public Relation Binus University), Muhamad Ali Sodikin (Kepala Unit Contect Marketing Poltek BIMA Cikarang), dan Anjani Adyalaksmini (CMO at PT. Laksmindo Bahtera) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.