14 Juli 2024

Marketplus.id – Salah satu yang paling penting dan perlu diperhatikan dalam penggunaan media sosial adalah aspek keamanan yang nantinya juga menentukan masa depan. Siapa pun orangnya kalau sudah beraktivitas di dunia maya, baik orang itu sadar atau tidak pasti meninggalkan jejak digital atau yang disebut dengan digital footprint.

Dhoqi Dofiri, Founder Dolovis, mengatakan, jejak digital dapat mengungkit kembali tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Semua itu karena aktivitas yang dilakukan secara daring yang membuat semua jejak digital dapat dianalisis dan dilacak setelah itu digunakan untuk menggambarkan profil dan perilaku yang sebenarnya. Kalau jejak digitalnya baik maka hal itu tidak terlalu berisiko sebaliknya jika jejak digitalnya sangat buruk maka hal itu akan merugikan diri sendiri.

“Semua orang yang memiliki media sosial dan beraktivitas di dunia maya wajib memikirkan dengan baik apa yang harus di-posting, di-share, di-like di internet untuk mengantisipasi penyalahgunaan jejak digital dikemudian hari. Karena banyak sekali orang yang diserang dengan mengambil jejak digitalnya sehingga dapat merugikan orang itu dan bahkan merugikan pada banyak orang,” ujar Dhoqi, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Kamis (11/11/2021).

Ia menjelaskan, banyak orang yang sering meremehkan jejak digital saat ini, salah satunya adalah pemuda-pemudi pada zaman sekarang, mulai dari posting gambar dan video yang tidak sopan dan lain sebagainya.

“Mereka banyak yang tidak memikirkan masa depannya, seandainya mempunyai masa depan yang cerah seperti menjadi publik figur mulai dari artis, pejabat negara, semua itu sangat mungkin terjadi bagi anak muda pada zaman sekarang karena mereka penerus dari semua itu,” jelasnya.

Lanjutnya, jika tidak pandai dalam menjaga jejak digitalnya maka itu akan menjadi hal yang sangat berisiko untuk masa depannya. Apalagi menjadi publik figur yang memang banyak orang yang ingin menjatuhkannya mulai dengan cara mengungkit masa lalunya dan itu bisa dilacak dari akun media sosialnya. Maka dari itu butuh antisipasi dari sekarang untuk menjaga hal yang tidak diinginkan.

Ia menambahkan, pada zaman sekarang jejak digital ibarat bom yang sudah siap meledak kapan saja. Pihak-pihak tertentu dapat memanfaatkan bom itu untuk menargetkan pemilik jejak digital itu. Apabila pemilik dari jejak digital mempunyai nilai buruk maka dapat merugikannya.

“Sekarang semua serba digital dan semua dapat diakses dan dilacak dari jarak jauh, maka zaman sekarang harus hati-hati dalam bermedia sosial,” terangnya.

Ia menerangkan, jejak digital sangat berpotensi untuk dilihat, disalin, dicuri dan dapat dipublikasikan oleh berbagai pihak untuk meraup keuntungan seperti kasus pencurian data dari Facebook oleh konsultan politik Cambridge Analytica dari Inggris data tersebut dianalisis dan kemudian digunakan untuk mengarahkan pemilih Donald Trump.

Ia juga mengungkapkan, tidak hanya itu saja seperti jejak yang ditinggalkan di internet juga dijadikan bahan pertimbangan oleh pemberi kerja. Seperti kasus di Amerika serikat lebih dari 60 persen manajer urung memperkerjakan orang karena menemukan hal yang tak patut dalam rekam jejak mereka di internet dan itu sudah banyak diterapkan oleh perusahaan dan instansi di Indonesia.

“Banyak sekali perusahaan mencoba mengevaluasi keberadaan media sosialnya untuk mengetahui dan memastikan benar-benar calon kandidat yang potensial,” ucapnya.

Oleh karena itu kita harus hati-hati dan lebih bijak dalam menggunakan internet. Pemerintah harus sadar dengan keadaan ini selain itu masyarakat harus dapat mendorong pemerintah untuk membuat undang-undang peraturan data pribadi agar tidak salah digunakan. Jika kalau ada orang yang dulunya masih khilaf maka sekarang masih punya kesempatan untuk mengurangi risiko tersebut dengan menghapus semua interaksi yang ada di media sosial mulai dari chat room, komentar, like, dan lain sebagainya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Kamis (11/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Keke Michelle Awuy (Tenaga Ahli DPR RI), Inayah Swasti Ratih (Dosen STEBI Badri Masduqi & Tim Pengembangan Media Digital Edukasi Ekonomi Islam), Abu Hanifah (Direktur Prabu Unggul Bersama), dan Anjani Adyalaksmini (CMO at PT. Laksmindo Bahtera) sebagai Key Opinion Leader.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *