Marketplus.id – Cakap dan cerdas digital menjadi syarat mutlak bagi tiap warganet untuk melindungi diri dari ancaman digital dan agar tidak terjerumus sebagai penjahat digital.

“Saling jaga, saling menghormati dan saling kerja sama adalah prasyarat untuk menjaga ketahanan siber dan ekosistem digital yang nyaman untuk semua,” kata Ida I Dewa Ayu Yayati Wilyadewi, Ketua Inkubator Bisnis Unhi Denpasar, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Kamis (11/11/2021).

Ia mengatakan, kecanduan digital yang menghantui setiap orang tua pada anak mereka, baik yang masih di bawah umur atau beranjak remaja, bisa dicegah dengan kemauan kuat dan dukungan dari lingkungan. Mulai dari memberi teladan yang baik, membatasi penggunaan, mendorong kegiatan alternatif, sikap disiplin, konsisten, dan tegas hingga perbanyak waktu bersama menjadi sebagian tawaran.

Lanjutnya, hanya saja, orang tua perlu mengetahui aktivitas anaknya dan tak boleh lengah mengingatkan ketika mereka mulai intens berinternet. Sebab, menemukan data pribadi di internet saat ini bukan suatu hal yang sulit dan tak sedikit pengguna internet abai dengan privasi. Mereka tanpa sadar mengumbar data pribadi tanpa memilah mana data yang rawan dan tidak disalahgunakan.

“Ingatkan anak agar tidak memajang data diri terlalu lengkap di media sosial. Berhati-hati memberikan data-data seperti alamat rumah, nomor telepon pribadi, telepon rumah,” terangnya.

Ia menambahkan, saat membuat akun sosial media, sebaiknya jangan mengisi data pribadi terlalu lengkap karena data-data tersebut bisa disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

“Jangan ragu kenalkan kepada anak potensi ancaman yang bisa terjadi kepada mereka jika data pribadi itu jatuh ke tangan orang yang salah. Ajak anak bersikap terbuka dan kenalkan cara berinternet yang aman dan positif,” tuturnya.

Sebab, saat ini juga banyak kasus kejahatan yang bermula dari data yang tersebar di media sosial. Khusus untuk orang tua, sebaiknya tidak mem-posting data di mana anaknya bersekolah.

“Anak-anak dan remaja seringkali berpikir bahwa mem-posting informasi pribadi di media sosial tidak berbahaya, padahal media sosial tempat publik, bukan buku diary sehingga apa yang di-posting akan dilihat banyak orang,” tambahnya.

Ia juga mengajak orang tua menanamkan pesan pada anaknya berupa think wisely before sharing. “Media sosial kini menjadi platform utama penyebaran informasi. Kalau tidak bijak, media sosial bisa menjadi lahan subur untuk pemupuk perilaku negatif juga seperti hate speech, hoaks hingga cyberbullying,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, komunikasi orang tua dan anak memegang peranan penting termasuk dalam peranan mengurangi ketergantungan pada gadget. “Ajaklah anak berdiskusi soal dunia digital, game, budaya pop, dan konten-konten yang aman serta positif,” kata dia.

Ia menjelaskan, berikan pengertian soal perundungan dan risiko berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal atau tidak pernah ditemui sebelumnya secara langsung. “Sebab intensitas dengan media sosial bisa memberi dampak negatif karena mudah terpapar konten-konten negatif, jadi target perundungan, obyek pelecehan seksual, hingga kecanduan game online atau offline,” pungkasnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Kamis(11/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Widya Pramusetyo (Aktivis Teknologi Informasi), Ayrton Eduardo Aryaprabawa (Founder & Director Crevolutionz), Edward Maraden (Field on Border Team Leader at Zenius Education), dan Nurrohman Adi Assajjad (Inspiring Content Creator) sebagai Key Opinion Leader.