Marketplus.id – Pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi metode yang diterapkan di hampir seluruh sekolah di Indonesia selama pandemi Covid-19. Hal tersebut haruslah dilakukan, demi melindungi siswa dari risiko penularan dan penyebaran virus corona.

Hal itu diutarakan, Diah Renata Anggraeni, Associate Faculty Member Binus University, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (11/11/2021).

Lanjutnya, jika dalam prosesnya, berbagai tantangan pun dihadapi, baik oleh para siswa, guru, orang tua murid, sekolah, hingga dinas pendidikan di wilayah masing-masing.

Hal tersebut terlihat melalui data dan fakta di lapangan yang dikumpulkan KPAI, saat melakukan serangkaian pengawasan di 42 wilayah Indonesia. Beberapa tantangan dalam melakukam PJJ selama pandemi, seperti:

  1. Kondisi psikologis

Saat pandemi dimulai, siswa mulai melakukan PJJ selama kurang lebih 2-3 bulan. Namun, tantangan muncul saat PJJ fase kedua dimulai. Di mana anak-anak memulai tahun ajaran baru yang semuanya berubah. Mulai dari kelas, teman-teman, guru, mata pelajaran, bahkan sekolah baru bagi siswa yang baru lulus dari tingkat sebelumnya. Belum lagi dengan adanya berbagai tuntutan yang terus-menerus diberikan, mulai dari tugas, hingga sulitnya meminta bantuan pada orang lain, karena mereka belum pernah berinteraksi satu sama lain sebelumnya. Hal ini lantas membuat siswa merasa tertekan.

2. Peran orang tua dan siswa

Di masa pandemi ini, tak sedikit orang tua yang masih memberikan target-target khusus terhadap anak tanpa memahami kesulitan anak itu sendiri. Oleh karena itu, di masa pandemi ini seharusnya orang tua tidak memiliki target khusus terhadap anak, seperti target seorang dewasa. Kepentingan orang tua untuk anaknya jadi yang the best, untuk anaknya ranking, harusnya lupakan. Sebaliknya, di masa pandemi seperti sekarang ini, yang paling penting adalah cara untuk membahagiakan anak. Ketika anak bahagia, maka imunnya akan kuat, dan ketika imunnya kuat, dia bisa belajar apapun.

3. Kesenjangan fasilitas penunjang

Meski saat ini sudah merupakan era digital, namun menurut data KPAI, 50% anak-anak yang berada di luar Jawa tidak terlayani PJJ secara daring. Jadi, mereka tidak bisa mengakses pelajaran melalui daring karena berbagai alasan. Banyak sekali anak-anak yang tidak punya gadget, tidak punya alatnya. Nomornya saja nggak ada, kuota gratisnya mau diisi ke mana. Jadi ini akhirnya bantuan itu tidak sampai. Selain itu, di beberapa wilayah juga susah sinyal.

4. Sosialisasi mengenai PJJ yang belum maksimal

Berbagai upaya yang dilakukan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) patut diapresiasi. Namun, setelah KPAI mendatangi 42 wilayah di Indonesia, sosialisasi mengenai PJJ ternyata belum maksimal dilakukan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (11/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Gian Depa Hermawan (PMT & Business Development at PT. Sahftindo Energi), Warahatsangka (Marketing & Sales Manager at PT Air Raya Indonesia), Danis Kirana (Co-Founder Dako Brand & Communication & Praktisi Komunikasi), dan Eka Tura Johan (TV Presenter & Profesional MC) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.