Marketplus.id – Hoaks merupakan berita yang dibuat seolah-olah berita yang benar, tetapi belum teruji kebenarannya. Hal itu dijelaskan, Muh. Irfan Ali, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Selasa (23/11/2021).

Menurutnya, hoaks tentang berbagai topik sering kali kita temui pada kehidupan sehari-hari. Seringkali, hoaks tersebut meresahkan kehidupan masyarakat. “Oleh karena itu, kita harus bijak dalam menyikapi hoaks,” terangnya.

Berikut ini berbagai cara menyikapi hoaks, seperti:

  1. Telusuri asal muasal hoaks di Google

Sangat mudah untuk menelusuri kebenaran suatu berita di Google. Kamu tinggal mengetikkan kata kunci (keyword) berita tersebut, diikuti dengan kata “hoax”. Sebagai contoh, ingin mencari kebenaran berita pengeboman Menara Eiffel di Prancis, maka cukup mengetikkan “bom Menara Eiffel hoax” di search bar Google. Cek apakah hasil penelusuran banyak berasal dari media yang kredibel, jika iya berarti berita tersebut bukan hoaks. Jika hasil penelusuranmu hanya berasal dari media sosial dan blog yang masih mempunyai domain Blogspot atau WordPress, maka kebenaran berita tersebut perlu dipertanyakan.

2. Gunakan tools pencari fakta untuk menelusuri suatu berita

Jika tidak bisa menemukan kebenaran suatu berita di Google, bisa memakai tools pencari fakta. Tools tersebut dapat berupa website maupun aplikasi pada smartphone. Salah satu website tersebut adalah snopes.com, sedangkan pada smartphone merupakan aplikasi yang bernama Hoax Buster Tools. Kedua tools tersebut cukup ampuh untuk menganalisis hoaks.

3. Hoaks di media sosial, cek profil akun yang menyebarkannya

Seringkali kita menemukan berita viral yang belum tentu benar di media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kita harus mengecek akun media sosial yang menyebarkan beritanya. Jika profil akun tersebut mencantumkan nama, lokasi, dan biodata yang jelas, serta tidak memiliki ciri-ciri seperti akun bot, maka kemungkinan besar bisa dipercayai kebenaran beritanya. Lebih baik lagi jika akun yang menyebarkan memiliki tanda centang biru. Sebaliknya, jika profil akun tersebut merupakan akun bot atau sama dengan ciri-ciri akun bot, tidak boleh langsung memercayai beritanya.

4. Jangan langsung mencerna berita yang tersebar dari grup chatting

Ketika bergabung dengan grup chatting yang terdiri dari keluarga besarmu, teman-teman, maupun anggota komunitasmu, ada saja yang mengirimkan pesan broadcast yang berisi suatu berita. Eitts, jangan langsung mencerna beritanya! Teliti dulu kebenarannya karena berita tersebut tidak jelas asal-usulnya. Kamu bisa mengeceknya melalui cara yang telah dipaparkan di atas.

5. Jika hoaks viral terbukti tidak benar, segera klarifikasi jika menyebarkannya

Jika seseorang sudah telanjur menyebarkan hoaks yang telah viral di media sosial, maka ia harus menghapus hoaks tersebut jika terbukti tidak benar. Ia bisa melanjutkannya dengan meminta maaf dan mengklarifikasi hoaks yang telah disebarkan. Hal yang sama juga berlaku pada penulis di suatu platform menulis.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Selasa (23/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Bowo W. Suhardjo (Komisaris Independen & Komite Audit IndoSterling Aset Manajemen), Nindy Tri Jayanti (Entrepreneur & Bisnis Owner), Abdullah Umar (Pegiat Literasi Digital dan Relawan TIK Blitar), dan Lady Kjaernett (Digital Creator) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.