Marketplus.id – Mengingat penggunaan media sosial makin meningkat, dan informasi dapat diakses dengan mudah. Banyak sekali berita palsu atau hoaks yang belum bisa diverifikasi, namun sudah beredar secara masif di tengah masyarakat.

Berita hoaks terus mengalami update dalam hitungan detik, dan dikonsumsi oleh pengguna internet. Hoaks sengaja dibuat untuk meresahkan masyarakat menggunakan data berupa foto, atau kutipan yang seolah-olah benar, dan dapat dipercaya.

Zainul Ichwan, Tenaga Ahli DPRD Kota Blitar, menjelaskan, tujuan berita hoaks untuk menyebarkan kebencian terhadap seseorang, atau suatu kelompok. Bisa juga berupa penipuan, provokasi, propaganda, atau pembentukan opini publik, hingga upaya yang direkayasa untuk menutupi kesalahan tertentu.

“Berita hoaks yang beredar di tengah masyarakat sering kali berkaitan dengan isu politik, agama, dan pandemi. Bahkan, ada juga penipuan seperti info lowongan pekerjaan,” kata Zainul, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kota Blitar, Jawa Timur, Selasa (23/11/2021).

Berita hoaks memberikan dampak negatif bagi semua pihak. Adapun dampak yang ditimbulkan dari berita hoaks adalah sebagai berikut:

  • Menimbulkan Perpecahan

Berita bohong memicu perpecahan, baik antar individu maupun kelompok. Hal ini disebabkan penggiringan opini terhadap seseorang, sehingga menimbulkan kebencian terhadap orang tersebut. Nah, jika sudah membenci satu sama lain, maka perpecahan tidak dapat dihindari.

  • Menurunkan Reputasi Seseorang

Sering kali berita hoaks akan merugikan satu pihak, dan menguntungkan pihak lainnya. Karena berita palsu bersifat mengadu domba, pihak korban akan merasa dirugikan dengan pencemaran nama baik, dan menurunnya reputasi.

  • Tidak Lagi Percaya Fakta

Karena terlalu banyak berita bohong yang beredar, masyarakat jadi sulit membedakan mana informasi palsu, dan fakta. Dengan menyebarluasnya hoaks, masyarakat justru tidak lagi percaya dengan fakta yang sebenarnya karena terlanjur keliru.

  • Menimbulkan Opini Negatif

Berita hoaks sering kali menyasar emosi masyarakat. Fitnah yang disebar dapat menyulut kebencian dan kemarahan, sehingga masyarakat memiliki sudut pandang negatif terhadap seseorang, kelompok, ataupun suatu produk. Upaya ini bisa disebut dengan black campaign untuk menjatuhkan pesaing.

  • Merugikan Masyarakat

Hoaks bisa saja merugikan masyarakat secara materi. Hal semacam ini sudah banyak terjadi di mana seseorang diminta untuk memberikan sejumlah uang karena menang undian, dan mengatasnamakan suatu brand. Bahkan, dalam hal melamar kerja, misalnya Anda diminta untuk membayar uang pendaftaran agar bisa diterima di perusahaan tersebut.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Blitar, Jawa Timur, Selasa (23/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Lucia Palupi (Digital Content Music Producer), Addin Aditya (Dosen dan Koordinator Penelitian dan Pengabdian STIKI Malang), Diana Belinda (Entrepreneur), dan Kevin Joshua sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.