Marketplus.id – Kemajuan teknologi membuat individu harus mengimbangi kemampuan dirinya. Tak sekadar dapat menggunakan teknologi, terkait merebaknya hoaks di tengah banjir informasi setiap orang harus membekali diri dengan literasi digital yang meliputi memilah, menganalisa dan mengevaluasi sebuah informasi yang ada di internet.

Ana Agustin Managing Partner di Indonesia Global Lawfirm mengatakan, perkembangan digital ini pesat sekali sehingga setiap orang harus bisa mengimbanginya. Bukan sekadar agar tidak ketinggalan tapi juga mengetahui rambu-rambu dan batas.

“Seperti dalam menyaring berita palsu atau hoaks yang bertebaran ada di internet,”katanya saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I, pada Selasa (23/11/2021).

Misalkan tidak ada kesesuaian antara judul dengan isi berita, isi konten berita yang menggiring ke suatu opini, konten berita diplintir, serta isinya mengecoh. Ada pula yang ternyata isinya mencatut nama orang penting sebagai nara sumber, termasuk dalam memanipulasi isi konten, namun ternyata ada juga jenis konten yang sengaja dibuat memang isinya palsu.

Dia juga mengatakan selama pandemi, hoaks seputar kesehatan seperti vaksin sangat banyak ditemukan. Belum lagi hoaks mengenai isu lainnya yang tersebar di platform Facebook, Instagram, Twitter, YouTube dan TikTok. Karenanya masyarakat harus jeli dalam menerima informasi dan membaca suatu berita. Bahaya dampak buruk hoaks bisa menjadi pemicu keributan, kecemasan dan kepanikan di masyarakat, karena hoaks biasanya dibuat untuk pengalihan isu dan penipuan publik.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I merupakan bagian dari Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Sandy Natalia, Co-Founder of Beauty Cabin, Fiona Damanik, Konseler Universitas Buddhi Dharma, Andi S, seorang Medical Doctor, dan Cyntia Jasmine, Founder GIFU.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.