14 Juli 2024

Marketplus.id — Kemudahan dalam mengakses lokapasar menggunakan ponsel pintar yang didukung oleh perbankan daring rupanya menimbulkan perilaku konsumtif yang mengarah kepada hedonisme.

Hal ini seringkali dilakukan oleh khalayak muda lantaran haus akan perhatian dan pujian. Maka dari itu, diperlukan kesadaran diri sendiri untuk mengontrol perilaku konsumtif tersebut.

Demikian yang mengemuka dalam webinar yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi bertema “Hedonisme Kalangan Generasi Muda Akibat Arus Digitalisasi”, Senin (15/8), di Makassar, Sulawesi Selatan.

Hadir sebagai narasumber adalah JaWAra Internet Sehat ICT Watch & Whatsapp Nur Rina Maskayanti; Relawan Social Media Manager Girls in Tech Indonesia Faye Yosephine; dan Erfan Hasmin selaku Kepala Unit ICT UNDIPA Makassar.

Dalam webinar tersebut, Nur Rina Maskayanti menekankan definisi dari hedonisme, yakni gaya hidup yang berfokus mencari kesenangan dan kepuasan tanpa batas. Kemudian, sifat dari hedonisme itu sendiri yaitu berusaha menghindari hal-hal yang menyakitkan atau menyusahkan dengan memaksimalkan perasaan-perasaan menyenangkan. Menurut Rina, hal ini belum tentu negatif dan dapat menjadi negatif apabila kita tidak bisa mengontrol diri serta menyeimbangan kondisi finansial kita.

“Kalau hedonisme itu kita menghabis-habiskan uang saja, inginnya mengikuti modernitas yang hits pada saat ini, bisa fashion atau nongkrong kalau di generasi muda. Kalau perilaku konsumtif itu tidak disadari kalau uang tiba-tiba habis untuk beli ini itu tanpa disadari apakah kita beli barang ini sesuai kebutuhan atau tidak. Perilaku konsumtif ini beriringan dengan hedonisme. Hedonisme mendorong perilaku konsumtif dan perilaku konsumtif dapat mendorong pemborosan dalam kehidupan,” ungkapnya.

Terkait etika digital, Yosephine menyebutkan sejumlah faktor internal hedonisme di era digital, diantaranya adalah senang menjadi pusat perhatian, self-reward yang berlebihan, serta aktualisasi diri yang berlebihan untuk mendapatkan perhatian dan pujian. Tidak hanya itu ia juga menjelaskan beberapa ciri-ciri gaya hidup hedonisme, salah satunya yaitu tidak mempedulikan kepentingan serta kebahagiaan orang lain sehingga orang tersebut menjadi pribadi yang egois.

“Pasti teman-teman memiliki e-commerce, contohnya Tokopedia. Apalagi sedang senggang, maka teman-teman men scroll up Tokopedia lalu menemukan sesuatu yang lucu dan memasukkannya ke dalam keranjang. Hal ini dapat menyebabkan hedonisme,” katanya.

Pada sesi terakhir, Erfan Hasmin menuturkan bahwa perilaku konsumtif dapat ditunjang dengan kemudahan untuk berbelanja daring sehingga membuat seseorang lebih mudah terdampak gaya hidup hedon. Maka dari itu, kita dapat melakukan pencegahan dengan cara meminimalkan jumlah uang di dompet digital agar terhindar dari kemudahan untuk tergoda aktivitas belanja yang tidak begitu dibutuhkan. Kemudian, Erfan menyebutkan ciri-ciri hedonisme yang mencakup konsumtif, self-reward yang berlebihan, lingkungan yang buruk, dan individualis.

Erfan berpesan, “Meskipun telah banyak tips untuk memanfaatkan pinjaman online yang legal, tetapi kita harus menghindari gaya hidup hedon dan tidak membudayakan berhutang sehingga sebaiknya kita tidak menginstall aplikasi pinjaman online.”

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Sulawesi dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial @Kemenkominfo dan @Siberkreasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *