Marketplus.id — Pemanfaatan teknologi digital semakin sulit dipisahkan dari dunia pendidikan. Banyak manfaat yang bisa didapat dengan mengoptimalkan mesin pencari dan situs belajar daring secara gratis. Namun, upaya itu harus dibarengi dengan kecakapan digital yang mumpuni.

Demikian yang mengemuka dalam webinar bertema “Literasi Digital dalam Dunia Pendidikan”, Selasa (13/9), di Pontianak, Kalimantan Barat, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Dimoderatori oleh Meilia Fajrin, narasumber dalam acara tersebut adalah relawan TIK Provinsi Bali Bidang Penelitian dan Pengembangan SDM, Ni Kadek Sintya; Founder & COO Bicara Project, Joddy Caprinata; serta relawan Mafindo Samarinda yang juga guru informasi dan teknologi di MA Darul Ihsan Samarinda, Muhammad Aswad.

Dalam paparannya, Aswad menyampaikan bahwa peranan teknologi digital kian strategi terhadap dunia pendidikan. Bahkan, dalam pembelajaran daring, semua ilmu dan pengetahuan tentang banyak hal bisa diperoleh dari internet. Hal itu bisa dilakukan lewat optimalisasi mesin pencari di internet, seperti Google, Yahoo, Bing, atau Yandex. Ia mencontohkan belajar daring dengan Google yang kian mudah, seperti mencari informasi lewat perintah suara atau lewat gambar di kamera.

“Banyak sekali situ belajar daring yang bisa kita akses secara gratis di internet. Meski gratis, kualitas kontennya tidak diragukan lagi. Jadi, dengan memanfaatkan teknologi internet, wawasan siswa, guru, dan orang tua bisa dioptimalkan,” ucap Aswad.

Sementara itu, Joddy menyatakan, kecakapan digital di era sekarang ini sangat penting. Pasalnya, mengutip data We are Social Hootsuite per Februari 2022, di Indonesia terdapat 204,7 juta pengguna internet atau setara dengan 73,7% dari populasi. Banyaknya pengguna internet di Indonesia tersebut perlu dibarengi dengan literasi digital yang mumpuni. Apabila tidak, hal itu berpotensi melanggar hukum dan bisa bermasalah secara pidana bagi penggunanya.

“Di dunia pendidikan, misalnya. Pemahaman tentang literasi digital sangat penting agar terhindar dari jebakan plagiarisme, yaitu menyalin tulisan secara identik tanpa menyebut sumber atau penulis aslinya. Plagiarisme bisa dihindari dengan menerapkan prinsip menghargai karya orang lain, mencantumkan sumber informasi, memberi interpretasi yang obyektif, serta mengunduh aplikasi anti plagiarisme,” ujar Joddy.

Ni Kadek menguraikan definisi tentang keamanan digital, yaitu sebuah proses untuk memastikan penggunaan layanan digital, baik secara daring atau luring, agar dapat dilakukan secara aman. Tak hanya mengamankan data pribadi, tetapi sekaligus untuk melindungi informasi rahasia yang bersifat pribadi. Menurut dia, keamanan digital juga terkait erat dengan jejak digital kita di internet.

“Jejak digital itu adalah segala hal yang pernah kita unggah di internet, termasuk di media sosial. Nah, jejak digital ini bisa disalahgunakan, meski juga ada manfaat positifnya. Dampak negatif jejak digital adalah bisa dijadikan pintu masuk kejahatan, seperti rekayasa sosial maupun intimidasi di media sosial lewat data pribadi yang diumbar ke publik,” ucap Ni Kadek.

Kendati demikian, lanjut Ni Kadek, jejak digital juga memiliki sisi positif. Ia mencontohkan jejak digital yang dijadikan petunjuk bagi aparat penegak hukum dalam mengungkap kasus kejahatan. Bagi mereka, jejak digital sangat membantu dalam memecahkan kasus kriminal, baik yang terjadi di dunia maya maupun di dunia nyata.

“Tidak ada yang aman 100% di dunia digital. Jadi, selalu berpikir positif dan membagikan hal-hal yang positif saja di internet agar kita tidak meninggalkan jejak yang membahayakan diri kita. Selain itu, bersikap kritis juga sangat penting,” kata Ni Kadek.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial @Kemenkominfo dan @Siberkreasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *