Mei 19, 2024

Marketplus.id — Maraknya perundungan siber di dunia digital, seperti yang terjadi di media sosial, disebabkan rendahnya pemahaman etika dan etiket berinternet. Padahal, perundungan siber memiliki dampak buruk yang sama besarnya dengan perundungan di dunia nyata. Selain etika dan etiket, cara berinternet yang sehat dan aman dapat mencegah terjadinya perundungan di dunia maya.

Demikian pembahasan dalam webinar dengan tema “Stop Perundungan Siber! Jadilah Netizen Yang Bijak”, Rabu (14/9), di Makassar, Sulawesi Selatan, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Dengan Luqmanul Hakim sebagai moderator, webinar ini dihadiri oleh sejumlah narasumber, yaitu dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, Frida Kusumastuti; Ketua Relawan TIK Provinsi Bali, I Gede Putu Krisna Juliharta; dan Sekretaris Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Sulawesi Selatan, Andi Widya Syadzwina.

Frida memaparkan bahwa tak hanya perundungan langsung atau fisik yang membahayakan, perundungan siber atau perundungan online juga tidak kalah berbahaya. Perundungan siber bisa dilakukan dengan tindakan menggunakan kata-kata yang menyerang korban, seperti menghina, mengejek, memfitnah, atau pesan ancaman. Secara sosial, perundungan siber bisa juga dilakukan dengan mengajak orang lain untuk memusuhi korban dan mengecilkannya di lingkungan sosial.

Untuk menghindari atau mencegah terjadinya perundungan siber (cyber bullying), Frida menyarankan agar warganet Indonesia aktif mempromosikan sikap saling menghormati dan menghargai di dunia digital. Pasalnya, perundungan siber mempunyai dampak luar biasa terhadap korban, seperti gangguan psikologis karena malu, rendah diri, cemas, atau ketakutan. Selain itu, korban juga akan mengalami gangguan psikomatik, yaitu jantung berdebar, gemetar, mudah lelah, sesak nafas, tangan berkeringat, dan sebagainya.

“Kepada pelaku perundungan, ingat bahwa ada ancaman hukum pidana terhadap pelakunya. Bagi warganet Indonesia, mari kita budayakan memberi dukungan positif, biasakan menyampaikan ucapan selamat dan pujian untuk konten positif yang baik,” ujar Frida.

Menurut I Gede Putu Krisna, agar tidak terjadi perundungan di dunia digital, warganet harus memahami apa itu etika dan etiket berinternet. Ia mencontohkan etika berinternet, seperti menghindari penggunaan huruf kapital, memperlakukan surel (e-mail) sebagai pesan pribadi, atau tidak mengirim file berukuran besar tanpa seizin si penerima. Adapun contoh etika berinternet adalah menulis dalam ejaan yang benar dan sopan, menghargai privasi dan karya orang lain, membiasakan mengisi kolom subject e-mail dalam mengirim pesan, serta tak menggunakan kata-kata vulgar atau jorok.

“Kita harus selalu menyadari bahwa kita berinteraksi dengan manusia nyata di jaringan yang lain, bukan dengan sekedar deretan huruf di layar monitor. Namun, dengan karakter manusia yang sesungguhnya,” tutur I Gede Putu Krisna.

Andi Widya menyampaikan, di tengah maraknya perundungan siber di dunia digital tak lepas dari fenomena di masyarakat yang kurang peduli terhadap penggunaan internet yang sehat dan aman. Hal itu disebabkan beberapa hal, seperti rendahnya kesadaran terhadap keamanan siber, kurang memahami dalam mengatur aplikasi, atau sistem keamanan dalam aplikasi tersebut kurang memadai.

“Padahal, ada sejumlah keuntungan menggunakan internet secara sehat dan aman, yaitu privasi dan data pribadi menjadi terjaga; nyaman dalam mengakses informasi; berpotensi mendapat penghasilan tambahan; serta terhindar dari perilaku buruk di internet oleh pengguna lain,” kata Andi Widya.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Sulawesi dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial @Kemenkominfo dan @Siberkreasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *