Marketplus.id – Internet sebagai akses untuk menghubungkan ke banyak platform serta berbagai saluran komunikasi awalnya digunakan untuk memberikan kemudahan. Namun lambat laun sejak pandemi, penggunaan yang tak hanya ditujukan bagi orang dewasa juga turut membawa kekhawatiran para orangtua.

Sebab saat ini anak-anak juga menggunakan internet untuk sekolah dan keperluan mencari bahan belajar. Jika dulu anak-anak usia SD belum memegang gadget, kini mereka harus bersentuhan dengan gawai hampir setiap hari. “Yang sejak dulu dikhawatirkan orangtua adalah takut anak-anaknya terpapar konten negatif,” ujar Mona Ratuliu, artis dan penulis buku ParenThink saat menjadi Key Opinion Leader (KOL) di webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di Kabupaten Kediri, Jawa Timur pada Rabu (28/9/2022).

Hal yang juga menjadi kekhawatiran orangtua menurut Mona adalah muncul konten pornografi dan perlakuan cyberbullying di media sosial. Apalagi jika anak tidak bercerita ke orangtuanya, karena muncul melalui direct message (dm) dari orang tidak dikenal dan langsung membuat anak stres. Apalagi perundungan bisa sampai membuat seseorang bunuh diri, melihat dari banyaknya kasus yang beredar.

Menurut Mona orangtua juga perlu melindungi anaknya karena ada potensi eksploitasi seksual secara online. Terlebih sekarang pemegang gadget usianya sudah semakin muda, 10-12 tahun termasuk paling muda di dunia digital. “Di sanalah predator-predator seksual memanfaatkan situasi. Karena anaknya makin kecil, makin mudah ditipunya. Hati-hati untuk para orangtua,” kata Mona lagi.

Meski bahaya di ruang digital ada banyak, namun manfaatnya sebenarnya pun jauh lebih banyak. Orangtua tidak bisa 100 persen melarang anak menggunakan gadget. Orangtua bisa fokus pada manfaat internet yang digunakan untuk mencati informasi dan tempat belajar baru, menunjang proses belajar, sebagai bahan referensi, mengoptimalkan penggunaan bahasa asing, bahkan sarana kolaborasi.

Orangtua bisa memiliki waktu berkualitas mengawasi anak berinternet dengan trik satu jam cerdas bersama untuk membuat kesepakatan tentang penggunaan internet. Dimulai dengan mendengarkan cerita anak mengenai penggunaan internet, kemudian tanyakan apa saja pengalamannya. Selanjutnya orangtua bisa memasukkan unsur edukasi apa bahaya internet dan bagaimana mengatasinya.

Orangtua juga harus menyusun kesepakatan bersama anak mengenai penggunaan internet serta rencana aksinya. Hal ini menjadi cara orangtua membatasi anak menggunakan internet sambil secara terbuka mengobrol dan membuat anak terbuka untuk mengetahui aktivitas apa saja yang dilakukan anak.

Webinar #MakinCakapDigital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kediri, Jawa Timur merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Kali ini hadir pembicara-pembicara yang ahli dibidangnya antara lain Founder & CEO Coffee Meets Stock, Theo Derick dan Pengurus RTIK Kabupaten Pasuruan, Riska Amelia, serta mengundang Key Opinion Leader (KOL), seorang Public Figure, Mona Ratuliu. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program Makin Cakap Digital hubungi info.literasidigital.id dan cari tahu lewat akun media sosial Siberkreasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *