Marketplus.id – Budaya digital dianggap penting, di tengah berbagai tantangan yang ada di masyarakat sejak adanya digitalisasi. Mengaitkan dengan derasnya arus informasi dan ancaman hoaks, budaya digital Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika menjadi salah satu dasar yang bisa merekatkan kembali renggangnya nilai-nilai di masyarakat.

“Yang mengadu domba, provokatif, dan mengaburkan wawasan kebangsaan. Menipisnya kesopanan dan kesantunan itu juga dari beberapa survei terbukti netizen kita disebut kurang sopan karena komentar-komentarnya,” Ungkap Pemeriksa Fakta Tersertifikasi GNI & AJI Indonesia, Penulis Buku Literasi Media, Dedy Helsyanto saat webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di Kabupaten Madiun, Jawa Timur pada Sabtu (1/10/2022).

Tantangan lainnya, menurut Dedy seperti menghilangnya budaya Indonesia, di mana media digital menjadi panggung negara asing dan minimnya pemahaman akan hak-hak digital. Hal itu turut memengaruhi bagaimana kebebasan berekspresi masyarakat Indonesia menjadi kebablasan, sebab tidak tahu saat berperilaku di dunia digital ternyata telah mencemarkan nama baik dan menyebarkan berita bohong.

Budaya bermedia digital sendiri merupakan kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, membiasakan, memeriksa, dan membangun wawasan kebangsaan, nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kaitannya dengan budaya digital, Dedy mengatakan masyarakat perlu memahami hoaks yang menyebabkan kekacauan informasi.

Dari riset Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Kata Data, sebanyak 60 persen orang rentan terpapar hoaks. Hoaks sendiri telah ada sejak 1808, berasal dari kata hocus sifatnya memang mengelabui. Kekacauan informasi ini sebenarnya terdiri dari mis-informasi di mana informasinya salah namun orang yang menyebarkannya tidak tahu dan tidak bermaksud untuk merugikan orang lain.

Sementara dis-informasi merupakan informasi yang salah namun dengan sengaja dibagikan kepada pihak lain untuk merugikan. Selanjutnya mal-informasi, informasinya benar namun dimanfaatkan oleh oknum untuk menyerang pihak lain. Sehingga pengguna media digital harus berhati-hati dan bisa membedakan kekacauan informasi.

Terkait dengan mis-informasi dan dis-informasi, terdapat 7 kategori di dalamnya seperti satire atau parodi, konten menyesatkan, konten tiruan, konten palsu, koneksi yang salah di mana antara judul berita dengan isinya tidak mendukung konten, kemudian konteks yang salah karena informasi benar dipadankan dengan konteks informasi salah, serta konten yang dimanipulasi yaitu bertujuan untuk menipu. Masyarakat setidaknya harus mengetahui jenis-jenis hoaks ini agar tidak tertipu maupun menyebarkannya.

Untuk membedakan informasi dan hoaks, perhatikan alamat URL, pastikan isi dan judul saling berhubungan, dan periksa waktu pemberitaan. Bedakan juga antara informasi dan hoaks dengan memeriksa foto dan video yang disematkan, teliti sumber asli, dan bandingkan dengan sumber lain.

Webinar #MakinCakapDigital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siber Kreasi.

Kali ini hadir pembicara-pembicara yang ahli di bidangnya antara lain Dosen Praktisi Program Magister UNAIR dan HR Profesional, Rovien Aryunia, Wakil Ketua RTIK Blitar, Subana, serta Pemeriksa Fakta Tersertifikasi GNI & AJI Indonesia, Penulis Buku Literasi Media, Dedy Helsyanto. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program Makin Cakap Digital hubungi info.literasidigital.id dan cari tahu lewat akun media sosial Siberkreasi atau instagram @literasidigitalkominfo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *