Marketplus.id — Tingginya penggunaan media sosial di Indonesia bisa menjadi jalan mempermudah mengenalkan brand ke publik. Selain lewat pembuatan konten yang menarik, agar brand dikenal cepat dan luas adalah dengan memanfaatkan fitur chatbots atau menggunakan jasa influencer. Namun, tetap butuh etika agar brand yang kita kenalkan menancap di hati dan pikiran konsumen.

Hal tersebut menjadi perbincangan dalam webinar yang bertema “Digitalisasi dalam Membangun Brand”, Selasa (1/11), di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Webinar ini menghadirkan narasumber, yaitu Sekretaris Relawan TIK Lampung Melda Agarina; dosen Komunikasi FISIP Unimal Kamaruddin Hasan; dan dosen Program Studi Akuntansi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Ignatius Aryono Putranto.

Mengawali paparannya, Melda Agarina menjelaskan bahwa perkembangan teknologi di Indonesia berlangsung sangat masif di mana pengguna internetnya mencapai 202 juta pengguna di awal 2022. Perubahan gaya hidup menjadi serba digital menawarkan kemudahan dan kepraktisan dalam berbagai aktivitas. Hal ini turut mempengaruhi cara orang membangun brand di ruang digital.

Beberapa hal yang wajib dilakukan, imbuh Melda, dalam membentuk brand di ruang digital adalah dengan menentukan target audiens dan membuat profil pelanggan. Yang berikutnya adalah menentukan fokus dan karakteristik brand. Dalam menentukan nama brand, tidak sekadar bagus, tetapi juga harus unik.

“Buatlah konten yang menarik dan bukan hanya untuk sekedar promosi. Konten yang dibuat harus relevan dengan cara melakukan penelitian terhadap apa yang sedang tren saat ini,” tuturnya.

Senada dengan Melda, Kamaruddin Hasan menuturkan, menciptakan brand bukan sekadar nama, desain, logo, atau tagline. Sebuah brand membutuhkan konsistensi dalam mengintegrasikan elemen visual, servis dalam bisnis, performa dan atribut produk, cara pemasaran, yang akan memberikan sebuah janji maupun persepsi kepada calon konsumen. Tujuannya adalah agar produk dan jasa yang diperkenalkan menancap kuat di pikiran konsumen.

“Membuat branding di media sosial membutuhkan konsistensi, konten yang relevan dan bermanfaat, serta penyajian yang unik dan menarik. Yang patut diingat adalah tidak membuat konten yang menjatuhkan kompetitor, memberi informasi yang tidak jujur, dan sebagainya,” ujarnya.

Sementara itu, Ignatius Aryono memberikan sejumlah tips agar membangun brand di media sosial bisa semakin optimal. Caranya adalah dengan memanfaatkan layanan chatbots karena bisa lebih cepat merespons pelanggan dalam kurun 24 jam dalam sehari. Berikutnya adalah memberi ulasan yang lengkap tentang brand tersebut agar pelanggan mendapat informasi yang lengkap dan utuh. Cara lain adalah dengan menggunakan jasa influencer.

“Selain itu, bisa juga dengan membuat konten berupa video singkat yang selanjutnya didistribusikan di media sosial, seperti TikTok, Instagram, dan lainnya,” ungkapnya.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial @Kemenkominfo dan @Siberkreasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *