12 Juli 2024

Marketplus.id — Teknologi internet yang maju menjadi tantangan bagaimana budaya asli Indonesia tetap terjaga dari serbuan budaya asing. Padahal, kekayaan budaya Indonesia amat luar biasa ragamnya. Media sosial justri bisa menjadi alat ampuh mempromosikan kekayaan budaya tersebut ke kancah global.

Demikian kesimpulan dalam webinar yang bertema “Pengembangan Budaya dan Seni Indonesia di Media Digital”, Rabu (16/11) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Narasumber dalam webinar ini adalah Kepala Program Studi S1 Public Relations Universitas Kristen Satya Wacana Rini Darmastuti; Pimpinan Kampoeng Dolanan Nusantara Abbet Nugroho; dan Sekretaris Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Sulawesi Selatan Andi Widya Syadzwina.

Melestarikan kebudayaan adalah upaya atau wujud untuk mempertahankan nilai-nilai seni budaya, baik secara tradisional maupun yang modern sesuai perkembangan zaman. Berdasarkan studi We Are Social di 2019, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta. Namun, menurut Abbet Nugroho, masyarakat Indonesia justru terpengaruh oleh budaya asing dan melupakan tradisi kuno atau asli Indonesia.

Kendati demikian, lanjut Abbet, bukan berarti masyarakat Indonesia tidak bisa berbuat untuk menyelamatkan budaya asli Nusantara. Media sosial justru bisa menjadi alat untuk menggerakkan karakter dan budaya asli di masyarakat, seperti gotong-royong. Ia mencontohkan, selama pandemi Covid-19, warga saling membantu warga lain yang terinfeksi virus Covid-19 dengan mengirimkan bantuan makanan selama isolasi mandiri.

“Begitu pula saat terjadi letusan gunung berapi. Bantuan pangan dan pakaian di galang lewat media sosial untuk diberikan kepada masyarakat yang terdampak letusan gunung berapi tersebut,” ujar Abbet.

Cara lain agar budaya asli tidak hilang tergusur budaya asing, menurut Abbet, adalah dengan membuat konten budaya unik di Nusantara yang amat beragam. Misalnya, konten berisi tari-tarian tradisional berikut tutorial cara menari dengan baik dan benar. Begitu pula konten terkait aksesoris yang digunakan penari tradisional tersebut.

Sementara terkait pengembangan budaya dan cara mempertahankannya di ruang digital, menurut Rini Darmastuti, harus dipahami bahwa Indonesia amat beragam kulturnya. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap toleransi dan saling menghargai budaya maupun adat-istiadat orang lain. Dalam hal ini, prinsip berpikiran terbuka sangat dibutuhkan.

“Hargai keragaman budaya untuk melestarikan seni dan budaya digital melalui media digital, seperti media sosial. Segala perbedaan yang ada harus dipahami dan diterima. Begitu pula segala bentuk diskriminasi harus ditolak,” ucap Rini.

Terkait konten budaya di ruang digital, Andi Widya Syadzwina menyarankan pentingnya penguasaan keterampilan digital, yang meliputi keterampilan komunikasi, menulis, menganalisis, dan berpikir kritis. Keterampilan menulis yang baik dapat menciptakan narasi yang baik dan tepat, enak dibaca, serta mudah dipahami.

“Generasi alfa adalah mereka yang terlahir di saat teknologi informasi berkembang pesat. Agar mampu beradaptasi dan memahami generasi alfa, kita harus memahami keterampilan digital dan penggunaan teknologi digital, khususnya dalam hal pengembangan budaya tradisional di ruang digital,” katanya.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial @Kemenkominfo dan @Siberkreasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *