Marketplus.id Dalam rangka kampanye Gerakan Nasional Literasi Digital di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi menyelenggarakan Workshop Literasi Digital, Senin, 29 Mei 2023, di Jawa Barat.

Tema yang diangkat adalah “UMKM Sukses dengan Strategi Branding Digital Jitu” dengan menghadirkan narasumber Co-Founder zeotech.co.id Aries Saefullah; Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Asfira Rachmad; serta Dosen Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Deny Yudiantoro.

Berdasarkan Survei Indeks Literasi Digital Nasional Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Katadata Insight Center pada tahun 2021 disebutkan bahwa Indonesia masih berada dalam kategori “sedang” dengan angka 3,49 dari skala 5.

Dalam merespons hal tersebut, Kemenkominfo menyelenggarakan “Workshop Literasi Digital” dengan materi yang didasarkan pada empat pilar utama literasi digital, yaitu kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Dalam paparannya, Aries Saefullah mengungkapkan, yang dimaksud branding digital adalah proses membangun dan memperkuat citra merek atau identitas melalui penggunaan platform digital dan strategi online. Ini melibatkan penggunaan berbagai elemen digital seperti situs web, media sosial, konten online, iklan digital, dan interaksi dengan pelanggan melalui saluran online.

“Mengapa branding atau promosi dilakukan secara digital? Sebab, dengan cara ini, target promosi bisa diatur sesuai kebutuhan. Jangkauan promosi juga bisa lebih luas. Kemudian, dengan biaya yang lebih murah, promosi bisa diakses kapan saja dan di mana saja,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurut Aries, ada beberapa elemen penting dalam menerapkan branding atau promosi digital. Elemen tersebut adalah desain visual, konten digital, sosial media, pengalaman pengguna (user experience), target pasar, dan SEO (search engine optimization). Selain itu, keterampilan videografi sebaiknya harus dimiliki. Untuk alatnya, saat ini sudah bisa menggunakan ponsel cerdas yang rata-rata memiliki kualitas lensa yang baik. Adapun untuk membuat konten narasi, bisa memanfaatkan kecerdasan buatan bernama ChatGPT.

“Pada akhirnya, menjadi pengusaha adalah bagaimana kita beradaptasi dengan teknologi dan menciptakan lumbung rezeki untuk orang lain lewat lapangan pekerjaan,” tuturnya.

Asfira Rachmad menyampaikan, dalam branding digital, tetap dibutuhkan apa yang disebut sebagai etika. Menurut dia, etika berinternet adalah tata krama dalam menggunakan internet. Harus selalu disadari bahwa berinteraksi dengan manusia nyata di dunia maya, bukan sekadar berurusan dengan deretan huruf dan angka di layar monitor, melainkan dengan karakter manusia yang sesungguhnya. Ia menyebut ada empat etika bisnis secara digital, yaitu kejujuran, ketepatan, loyalitas, dan disiplin.

“Harus ada kejelasan mengenai produk yang kita jual, misalnya bahwa produk tersebut tidak berbahaya bagi kesehatan atau memiliki efek samping tertentu. Selain itu, penting bagi konsumen untuk mengetahui cara penggunaan produk yang kita jual dan ada jaminan mengenai fungsi penggunaannya. Harus ada jaminan garansi apabila barang tersebut tidak sesuai harapan konsumen,” ucapnya.

Asfira mengingatkan, dalam branding digital, ada beberapa hal yang wajib dihindari atau terlarang untuk dilakukan. Hal tersebut adalah promosi yang mengandung unsur SARA; menjatuhkan kompetitor; dan plagiat. Apabila ketiga hal itu dilakukan, sama halnya telah melanggar etika dengan sangat berat. “Tetaplah kreatif dan terus aktif. Hidup itu indah dengan berkarya,” katanya.

Sementara itu, Deny Yudiantoro mengingatkan, ada beberapa masalah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tengah pesatnya pertumbuhan teknologi digital. Masalah tersebut adalah cara bisnis yang dilakukan oleh UMKM sudah ketinggalan zaman atau konvensional. Mereka tidak adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kurang responsif dengan perubahan yang ada. Selain itu, banyak UMKM yang kurang memahami perkembangan selera pasar.

“Saat ini penting bagi pelaku UMKM untuk bertransformasi secara digital. Sudah bukan masanya lagi transaksi dilakukan secara tradisional, tetap sudah saatnya dilakukan secara digital,” ungkapnya.

Ia menyarankan agar pelaku UMKM terjun ke lokapasar (marketplace). Selain tidak membutuhkan biaya besar atau mahal, pelaku usaha akan mendapatkan trafik organik secara gratis. Agar pemasaran kian masif, promosi juga bisa dilakukan lewat media sosial yang ada, seperti Facebook, Instagram, atau TikTok.

Workshop Literasi Digital ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Informasi lebih lanjut mengenai literasi digital dan info kegiatan dapat diakses melalui website literasidigital.id, media sosial Instagram @literasidigitalkominfo Facebook Page dan Kanal Youtube Literasi Digital Kominfo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *