13 Juli 2024

Marketplus.id – Kementerian Agama Republik Indonesia bersama Unilever Indonesia melalui brand Lifebuoy menggelar program “Pesantren Sehat Lifebuoy” yang bertujuan meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dari santri dan santriwati. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (15/2) di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta, dengan melibatkan 1200 santri/santriwati yang mendapatkan edukasi kesehatan juga pelatihan guna cetak Duta Santri.

Dalam acara ini juga hadir Wakil Menteri Agama RI, KH. Saiful Rahmat Dasuki, S.IP., M.Si., jajaran Direksi Unilever Indonesia, dan Pengurus Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta K.H. Ahmad Mahrus Iskandar.

Wakil Menteri Agama, Saiful Rahmat Dasuki menyatakan, “Melalui kerjasama dengan pihak-pihak swasta termasuk di dalamnya Unilever Indonesia, dan produk-produknya, dapat menunjang peningkatan pola hidup termasuk di dalamnya aspek kesehatan yang bermanfaat, terutama bagi pondok pesantren. Sebab pada dasarnya apabila para santrinya sehat, Insyaa Allah Indonesia kuat.”

Salah satu langkah utama dari PHBS yang penting untuk diimplementasikan di pesantren adalah gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di 5 momen penting, yakni saat sebelum makan, setelah dari toilet, setelah bermain, setelah batuk atau bersin, dan setelah bepergian.

Jika dibiasakan, CTPS di 5 momen penting akan mampu melindungi para santri/santriwati dari berbagai penyebaran penyakit.

Ketua Presidium Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI), dr. Imelda Datau menyatakan rasa senang dan bangga terkait program ini yang ada di pesantren-pesantren seluruh Indonesia karena seperti diketahui bersama bahwa perilaku hidup bersih dan sehat itu sangat penting terutama di kalangan pesantren.

Dengan membiasakan PHBS di lingkungan pondok pesantren, hal ini bisa menjaga atau mengurangi resiko dari kemungkinan timbulnya berbagai penyakit.

“Banyak sekali bahkan ada 183 penyakit yang diakibatkan oleh kurang bersihnya kita dalam hal CTPS maupun saat membersihkan gigi dan mulut. Jadi, program ini sebaiknya kita galakkan bersama-sama karena selama ini perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) bekerja sama dengan Lifebuoy sudah melakukan hal tersebut di sekolah-sekolah dasar di lima cabang kami di seluruh Indonesia,” jelas dr. Imelda.

Bahkan menurut teori Swiss Cheese Model for Infectious Disease, kebiasaan ini menjadi langkah pertama untuk melindungi diri dari ancaman penyakit infeksi, setelah vaksin.

Sementara, menilik pada data BPS, Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di DKI Jakarta baru mencapai 54,8% dari total populasi sehingga adanya keperluan untuk meningkatkan kebiasaan CTPS ke lebih banyak masyarakat di DKI Jakarta.

Head of Skin Cleansing Unilever Indonesia, Erfan Hidayat menjelaskan peran Lifebuoy untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan di area Pesantren. Salah satunya adalah dengan mencetak Duta Santri sebagai peer educator dari program peer-to-peer learning.

“Sejak tahun 2019 program Pesantren Sehat Lifebuoy telah menjangkau lebih dari 2.000 pesantren dan memberikan manfaat bagi lebih dari 900.000 santri/santriwati di Indonesia. Tahun ini program Pesantren Sehat Lifebuoy hadir di Jakarta dengan tujuan memberikan dampak yang lebih luas melalui sejumlah rangkaian kegiatan mulai dari peer-to-peer learning, training for trainers (kepada santri, ustadz, dan ustadzah), edukasi CTPS dengan baik dan benar, hingga pemeriksaan kesehatan. Kami berharap dengan kolaborasi yang dilakukan di Pesantren di berbagai kota di Indonesia kami dapat menjangkau penambahan 1 juta santri/santriwati di lebih dari 1.500 pesantren,” papar Erfan.

Interaksi intens antar masyarakat pesantren menjadikan pesantren unit pendidikan yang berpotensi efektif dalam membiasakan CTPS di 5 momen penting melalui metode peer-to-peer learning, dimana mereka saling mencontohkan dan meniru berbagai perilaku positif. Menurut studi dari Hungarian Academy of Sciences, peer-to-peer learning atau program edukasi melalui teman sebaya merupakan salah satu cara edukasi yang paling efektif dalam pengajaran CTPS di kalangan anak-anak.

Studi ini menemukan bahwa program edukasi melalui teman sebaya dapat meningkatkan pengetahuan teoretis tentang CTPS dan cara mempraktekkan CTPS yang benar hampir 2x lebih baik dari sebelumnya, dan dapat bertahan bahkan 4 bulan setelah program berakhir.

Menurut Ahmad Mahrus Iskandar, Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah yang juga bertindak sebagai penerima manfaat sekaligus tuan rumah acara hari ini menuturkan, selama ini melalui peranan para wali santri, sejak sebelum ada virus COVID 19 sampai sekarang, pihaknya terus meminta agar mereka dapat menerapkan pola hidup sehat. Kendati hidup bersama-sama dalam satu ruangan selama 24 jam non-stop, pasti menghadapi tantangan yang berbeda dengan kondisi pada umumnya.

“Kami tidak boleh lengah dan berputus asa, sehingga setiap diadakan kegiatan di lingkungan pesantren, para santri kami ajak membuat kegiatan dengan sabun Lifebuoy bersama Duta Cuci Tangan dari para santri, di mana mereka mengajarkan contoh aktivitas cuci tangan yang benar selama 20 detik. Alhamdullilah kami juga sudah memperbanyak tempat cuci tangan, termasuk menyediakan sabun untuk cuci tangan di tempat-tempat lingkungan Pesantren Asshiddiqiyah. Diharapkan juga mereka membiasakan mandi setiap harinya sambil menggunakan produk-produk yang memang baik bagi kulit dan rambut mereka. Hal tersebut selalu diajarkan, karena penting sekali peranannya bagi para santri,” jelas Ahmad Mahrus Iskandar.

Program Pesantren Lifebuoy dibagi menjadi dua tahap:

  • Pemilihan Duta Santri oleh pihak Pesantren sebagai peer educator yang akan mendapatkan pelatihan tentang PHBS, terutama CTPS, oleh dokter dari PDUI. Hal ini menjadi penting karena salah satu faktor kesuksesan peer-to-peer learning adalah kompetensi dan kapabilitas dari peer educator. Melalui pelatihan ini, duta santri akan memahami pentingnya CTPS dan bagaimana cara melakukan CTPS dengan baik dan benar.
  • Tahap berikutnya, Duta Santri akan kembali ke pesantren untuk dapat memulai melakukan Gerakan 21 Hari Pembiasaan CTPS bersama santri/santriwati lainnya. Hal ini dilakukan karena menurut teori peer-to-peer learning, edukasi melalui peer educatoryang kompeten terbukti lebih efektif dibandingkan dengan edukasi guru-siswa pada umumnya.

Selain peer-to-peer learning, Lifebuoy memberikan bantuan terhadap pesantren berupa dana pendidikan, alat penunjang pendidikan, dan pemerikasaan kesehatan tanpa biaya.

“Dengan dilaksanakannya program Pesantren Sehat Lifebuoy di DKI Jakarta, kami berharap dapat melahirkan agen-agen perubahan yang mampu menciptakan lingkungan pesantren maupun masyarakat yang lebih sehat. Di tahun 2024, program sudah berjalan di Semarang dan akan berjalan di berbagai kota lain di Indonesia, antara lain Bandung, Palembang, Lampung, Banjarmasin, Makassar, Bengkulu, dan Padang,” tutup Erfan Hidayat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *