Marketplus.id – Etika menjadi satu hal yang penting dari para pendidik saat mengajar secara langsung maupun daring. Di mana guru yang beretika dapat menentukan proses belajar mengajar berjalan dengan lancar, menarik dan menyenangkan. Kita ketahui bersama ada keadaan kita yang berbeda saat ini, para pendidik mau tidak mau harus mengajar secara daring.

Dian Dwika Widyasari, praktisi pendidikan mengatakan, dimulai dari para pendidik ini menguasai bagaimana cara mereka mengajar online learning. Dalam setiap pembelajaran terdapat learning objective atau kemampuan yang harus dikuasai, pengetahuan yang harus dipahami dan keterampilan yang harus dimiliki. Ada juga yang namanya learning outcome dampak setelah mempelajari itu, siswa mampu menjadi sesuatu, siswa paham sesuatu, siswa terampil melakukan sesuatu dan lainnya.

Diantara kedua ini disusun juga sebuah learning plan, learning activities atau apa yang ingin para pendidik itu bentuk untuk para siswa. Terakhir melakukan checking, bagaimana guru memastikan proses berjalan dengan baik.

“Bagaimana perilaku mengajar ada dalam kompetensi guru yakni mereka berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan diri dalam menguasai teknologi. Terkadang pendidik merasa komitmen yaitu meningkat atau bahkan menurun, merasa cemas, letih, lelah untuk selalu menggunakan gawai. Tapi inilah tanggung jawab sebagai pendidik untuk terus meningkatkan komitmen supaya murid juga mudah untuk melakukan penyesuaian dan menguasai teknologi,” jelasnya saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Senin (25/10/2021).

Kemudian guru dapat Mandiri menentukan cara belajar serta tangguh dalam menghadapi tantangan menguasai teknologi. Setiap guru diberi kebebasan untuk menentukan cara pembelajaran namun ketika diberi kebebasan itu ada beberapa yang merasa takut salah. padahal sebetulnya dengan kita bisa terus menggali informasi mengenai literasi digital nambah lagi mengenai ilmu teknologi informasi seorang guru mampu menghadapi segala tantangan nya.

Juga harus reflektif dalam evaluasi kemampuan diri, menganalisis situasi serta membangun pengalaman dalam penggunaan teknologi. Sebagai pendidik harus sering melakukan refleksi, mengevakuasi diri bagaimana selama ini dia mengajar kemudian dia mampu mencari solusi untuk menyelesaikan segala permasalahan yang dirasakan.

“Pendidik beretika lainnya adalah memiliki prinsip dalam berperilaku di dunia digital memiliki integritas dan tanggap dalam perubahan lingkungan digital. Mereka dapat berkolaborasi dengan mudah tidak ada batasan namun bisa lebih sulit karena sulit menebak bagaimana potensinya dampaknya dan lainnya. oleh karena itu guru harus berprinsip selalu memiliki integritas,” jelasnya.

Prinsip dan berintegritas ini sangat sulit sebagai contoh seorang murid jika dalam pembelajaran tatap muka sebelumnya memperlihatkan kepribadian yang baik-baik saja namun ketika bertemu di depan layar menunjukkan sikap yang sangat berbeda. Penyebabnya adalah karena perilaku di depan layar seringkali memancing perilaku-perilaku yang membuat perbedaan itu. Sikap toleransi, jujur saling menghormati memang sangat diuji saat pembelajaran daring berlangsung.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Senin (25/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Oman Kamarudin (Ketua RTIK Karawang), dr. Frendy Winardi (Founder Royals Rejuvia), Katherine (Entrepreneur), dan Sari Hutagalung sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.