Marketplus.id – Generasi milenial (kelahiran 1981-1996) dan generasi Z (kelahiran 1997 ke atas) identik dengan generasi yang tumbuh bersama dan bergelimang dengan teknologi. Sejak lahir, penemuan teknologi awal milenium ketiga seperti komputer, smartphone, hingga perangkat digital lain seolah menunggu mereka.

Generasi X (kelahiran tahun 1965-1980) dan generasi baby boomers (1946-1964) tak sepenuhnya merasakan hal itu. Saat milenial dan gen-Z tumbuh, secara tidak langsung terjadi transisi demografi dan transisi digital. Berkat kemajuan peradaban, banyak hal bisa dilakukan dengan mudah, mulai dari akses informasi hingga belanja di internet.

Di Indonesia, secara populasi generasi Z adalah yang terbanyak. Jumlahnya mencapai 72,8 juta (27 persen) dari 267 juta penduduk Indonesia pada 2019. Sedangkan milenial mencapai 66,7 juta (25 persen), dan gen-X jumlahnya mencapai 21 persen dari total populasi.

Hasil pengolahan Lokadata.id atas Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2019 mengungkap, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 116 juta. Sekitar 13 persennya, atau 15 juta penduduk mengaku suka berbelanja menggunakan internet.

Menggunakan internet dan suka belanja online dimonopoli milenial. Dari 47 juta milenial pengguna internet, sebanyak 17 persen atau sekitar 7,8 juta di antaranya suka belanja online. Entah itu membeli kebutuhan barang atau jenis jasa.

Jumlah pengguna internet dari gen-Z sekitar 44 juta. Kira-kira 3,8 juta (9 persen) di antaranya suka belanja di internet. Sementara dari kalangan gen-X sekitar 21 juta pengguna, dengan 13 persen atau 2,8 juta pembelanja daring.

Dewi Wahyu Wijianti, Koordinator Tutor Bimbel Privat Mandiri, menjelaskan, kelompok pasar terbesar jual beli online di Indonesia dari kalangan milenial dan gen-Z. Terlepas dari penggolongan generasi, perebutan pasar online adalah usia produktif (15-65 tahun), di mana konsumsi dan pemenuhan kebutuhannya sedang tinggi.

Meski milenial dan gen-Z identik dengan internet dan digital, Ignatius mengingatkan, persaingan pangsa pasar itu bukan milik e-dagang semata, juga sektor-sektor lainnya, seperti perumahan, travel, hingga hiburan, dan banyak sektor lain.

“Sebenarnya ini bukan hanya e-commerce. Kelompok pembeli terbesar memang milenial dan gen-Z mulai tumbuh. Jadi nggak bisa dikatakan ini hanya untuk e-commerce,” kata Dewi, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Jumat (29/10/2021).

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Jumat (29/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Eni Mahzumah (Guru SMKN 1 Tambakboyo), Abednego Tambayong (Founder Abed Azarya & Team), Erna Eriana (CEO Cleoparta Management), dan Meitha Kurniasari (Experienced Secretary to BOD) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. BerlAndaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.