25 Juni 2024

Marketplus.id — Survei yang menyatakan netizen Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara menjadi tamparan keras sekaligus menjadi momentum tepat bagi seluruh masyarakat di Tanah Air untuk introspeksi dan meningkatkan literasi atau kecakapan digital sebagai bekal menghadapi revolusi industri 4.0.

Demikian yang mengemuka dalam webinar bertema “Sopan dan beradab di Media Sosial”, Selasa (9/8), di Singkawang, Kalimantan Barat, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Hadir sebagai narasumber adalah Dosen Universitas Sriwijaya Anang Dwi Santoso; Dosen Universitas Negeri Padang Siska Sasmita; dan Pengajar di Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Makassar Dian Muhtadiah Hamna.

Dalam webinar tersebut, Anang Dwi Santoso mengingatkan lagi ihwal hasil survei Microsoft. Sebagaimana ramai diberitakan di awal 2021 lalu, Microsoft mengumumkan hasil survei tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang 2020, dimana Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei. Angka ini merupakan yang terendah di Asia Tenggara, dengan kata lain netizen Indonesia dianggap paling tidak sopan, bahkan kalah dari Vietnam.

“Mengapa kita ada di posisi terbawah, karena kita sangat riskan dengan hoaks, penipuan daring, seringkali juga ditemui ujaran kebencian, diskriminasi terhadap kelompok minoritas, dan sebagainya. Oleh karena itu, perlu pemahaman cara menjadi netizen yang beradab,” ujarnya.

Anang menyebutkan beberapa kompetensi literasi digital terkait netiket atau tata krama dalam berinternet. Antara lain kompetensi dalam menyeleksi dan menganalisis informasi saat berkomunikasi di platform digital. Lalu, kompetensi memahami etika sebagai upaya membentengi diri dari tindakan negatif di platform digital. Tak kalah penting adalah kompetensi memproduksi dan mendistribusikan informasi di platform digital, serta kemampuan memverifikasi pesan sesuai standar netiket. Sehingga, orang tidak mudah terjebak hoaks alias berita bohong, yaitu berita tidak bersumber tetapi disajikan seolah-olah sebagai fakta.

“Misalnya ada orang-orang yang mencoba memanfaatkan situasi dengan mengunggah foto atau video lama dengan tujuan membuat masyarakat bingung atau kacau. Dalam menyikapinya, kita jangan gegabah. Seringkali kalau kita mendengar atau mendapatkan berita spektakuler itu kita langsung reaktif atau marah, pengen orang lain marah juga, sehingga lalu mendistribusikan berita tersebut. Itu tidak boleh, pastikan saat menerima berita apapun harus tenang, jangan emosi,” tandasnya.

Siska Sasmita menambahkan, secara praktik, kecakapan digital dapat dikuasai tatkala mampu memperoleh informasi yang valid dan mengkomunikasikan informasi tersebut saat berinteraksi dengan pihak lain. Namun demikian, potensi gangguan informasi seperti misinformasi, disinformasi, dan malinformasi tetap harus diwaspadai. Siska pun lantas memberikan langkah-langkah yang bisa dilakukan saat mendapati informasi yang diragukan keabsahannya.  Pertama, gunakan fitur cek fakta di Google https://toolbox.google.com/factcheck/explorer untuk mengecek apakah sebuah berita itu benar atau salah, termasuk juga konten foto dan video. Kemudian, percayai informasi hanya dari sumber atau media yang kredibel.

“Walaupun tidak bisa dimungkiri bahwa media yang kredibel juga ada kalanya terpeleset. Maka, penting untuk membandingkan informasi dari berbagai sumber yang berbeda. Selain itu, cek nama domain, situs resmi biasanya jarang menggunakan domain gratis seperti blogspot.com dan lainnya,” urainya.

Sementara itu, Dian Muhtadiah Hamna menyoroti pentingnya literasi keamanan digital agar terhindar dari cyber criminal atau tindak kejahatan di dunia maya. Salah satu contohnya adalah perilaku perundungan siber atau cyber bullying yang marak di media sosial. Untuk melawan perilaku tersebut, Dian memberikan beberapa sejumlah tips. Pertama, jangan merespons komentar yang bersifat intimidatif, mencaci, mengejek, menghina dan juga mencela.

“Jika Anda justru reaktif, pelaku bullying akan puas dan akan terus-menerus melakukan hal yang sama,” tuturnya.

Selanjutnya, jangan balas dendam karena hal ini justru membuat pelaku bullying akan terus mencari ‘sekutu’ bully yang baru untuk semakin menjerumuskan Anda. Selain itu, pastikan selalu menjaga keamanan akun medsos dengan tidak menuliskan atau mengunggah informasi personal begitu detail di medsos dan selalu log out atau keluar dari semua akun internet begitu selesai menggunakannya.

“Jangan lupa juga simpan bukti cyber bullying di medsos, bisa berupa pesan, foto, atau komentar agar bisa ditunjukkan ke pihak yang berwenang. Jika aksi cyberbullying terus berlangsung, saatnya untuk melaporkan ke pihak berwajib, seperti pihak medsos, kerabat dekat, atau bahkan polisi,” saran dia.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial @Kemenkominfo dan @Siberkreasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *